project of mind-uprising!!!

raise ur hand...................
sebuah pemikiran, sebuah harapan, pemaparan tentang apa yang telah usai, semua yang sedang terjadi atau semua yang akan terjadi, sebuah cerita... kebenaran, kebohongan, kepahitan, kebahagian, realita semu atau sekedar pelarian akan berputarnya roda waktu yang tergulir dalam sebuah lembaran - lembaran halaman yang tergores guratan hitam pena sang aryoz, sebuah torehan cerita yang mungkin belum cukup pantas untuk disisipkan dalam lembaran sejarah..... sekedar petualangan pemikiran saja....... welcome to mind exploration!


Showing posts with label Sunday. Show all posts
Showing posts with label Sunday. Show all posts

Thursday, September 24, 2009

"Till Facebook Do Us Part" CERPENs version

The story of mario and inka

pada suatu kala maryono & indriyatun adalah sepasang kekasih yg berjanji untuk bersama sehidup semati.. setelah dirasa Gale City (a.k.a Trenggalek) tak lagi mewadahi aspirasi, mereka pindah ke metropolis dg harapan menyerta, tinggal d sebuah kos2an dan bekerja d sebuah department store membuat ke2nya berubah nama jd mario & inka, tingkat ekonomi meningkat, gaya hdup beranjak, mereka pun membaur dan menjadi sepasang kekasih metro pada umumnya, dandanan yg lg uPdate serta tren terbaru dengan aktif mereka ikuti, semerbak BLV dan hp seperti BB (baca Nexian) slalu menemani.

online setiap saat dan hengot everyday adalah bagian keseharian mereka, tak ubahnya musim buah saat ini, fesbuk pun menjadi media untuk dikenal dalam gemerlap metro dan cara memperoleh status AGM alias anak gaul metro, yak, mau ini update, setelah begni update, mau ngapa - ngapain update, ya cermin hidup saat ini, namun diantara putaran lifestyle ini, ternyata mario sangat jauh tertinggal, selain ia orang yg berprinsip dan berkpribadian humble, baginya putaran kehidupan metro terasa merubahnya jd hewan, tak jarang mereka bertengkar, sebab atun alias inka semakin doyan party.

hampir setiap hari inka pulang pagi bersama teman2nya, setelah semalam hengot di pelbgai resto n cafe, namun inka malah marah serta melarang mario agar tdk lagi memanggilnya atun, begitu rutinitasyg dilakukan inka stiap hari, kerja trus party dan sampai rumah pun yg durusi oleh inka hanya posting wall dan update status, tak ayal hubungan mereka diambang prahara, cinta yg telah bertahun2 lamanya sejak dari Gale City akhirnya berakhir dg umpatan. ''apa si mas? resek bnget ah, ga penting tauk.. aku inka dan bukan indriyatun'' ''udah ah aq mau ke spa'' lalu inka berlalu dengan legging hitam ketat dan mario pun sedih.

ditengah2 badai dalam hubungan mereka, inka dengan citra diri yang telah ber-evolusi, ia menjadi lebih percaya diri dan berani teRang2an bmain gila dengan jimmy yg tak lain adalah seorang DJ yang dikenalnya pada sebuah acara rave di sebuah pub. sore itu mario mendapati inka tengah fesgedebhukan dengan dj itu dan hal apapun yg dikatakan mario tak dihiraukan oleh inka, "cukup!" teriak mario, dimana teriakan ini membuat inka menoleh dengan sinis. "kita bicara atau aku pergi" kata mario lalu indri dg sok bitchy "yaw uda elo pergi aja" "Oh jadi km lebih milih fesbukan dari pada aku kekasihmu? 'ya!" hardiknya. "uda sana pergi, dasar ndheso, katrok!" puncaknya maryono pergi dg hati terobek dan yakin bahwa fesbuk telah memisahkannya dg inka...

the end of sad story that love are apart by facebook....

"Terhempas dalam sebuah kisah" CERPENs version

Tiga hari menjelang bulan oktober menutup usia ditahun dua ribu delapan dengan segelas kopi yang setia mendampingi dengan kehangatan dan aroma cookie yang menggoda mengajak mulut menganga dan menggerakkan gigi tuk menguyahnya.

Sebuah momen pada sebuah cafe dengan view jalan kemang daerah jakarta bagian selatan tepat lima menit sebelum jam sembilan berakhir (pukul 21:50). Aku duduk di sebuah kursi rotan yang khas dengan karakter cafe sebuah brand luar negri sembari menelusuri rasa dalam hati akan pencarian jati diri.
Beberapa kali tawa kecil sepasang kekasih yang sedang memadu kasih diujung lorong menghiasi, bangku mereka berjarak hanya sepuluh langkah dari tempatku duduk sehingga turut merasa aura bujuk dan rayu mereka yang saling memuji dan menikmati atmosfir malam itu. Bagaimanapun kekonyolan mereka dengan cerita cinta yang sedang meraka perankan, dimana ada saatnya aku melakoninya membuat aku tersenyum kecut akan ingatan dimasa lalu. Betapa sejuk dan menenangkan bersama yang terkasih disisi untuk sekedar berbagi ucap meski sebatas rekaan saja. Betapa aku juga ikut terbuai dalam tali asmara yang ada untuk semakin ikut menikmati keheningan yang selama ini terpuaskan dengan film – film drama romantis yang biasa kulihat di hari minggu pagi untuk beristirahat melepas penat akibat kehidupan gerak cepat dari senin sampai sabtu.

Bangku mereka diujung jalan dengan dihiasi lampu sorot taman yang tertancap pada sebuah batu yang kira – kira terangnya hanya sekitar 40 watt saja dimana cukup untuk membuat suasanan romantis kolam ikan dengan pompa pancuran yang mengucurkan air dari bawah keatas untuk membasahi dan menciprati rumput hijau disekitar membuat pasangan itu seakan di awang – awang. Begitu manusiawinya ketika canda tawa serta rasa kasih yang telah diujung jalan harus di aktualisasikan sang pria untuk membelai wajah wanitanya dan menaruh telapak tanan sebelah kanan seutuhnya untuk menggenggam pipi kiri sang bidadari, baginya, tanpa di sutradarai mereka dengan gerak lambat bersama pohon palem yang turut bersamaku menjadi saksi menyaksikan betapa ini membuat jantung berhenti berdetak ketika sang wanita dengan blouse putih tersebut menutup mata dan menyerahkan kelembutan bibirnya untuk dipadukan dengan mulut pasangannya.

Tak ayal adegan ciuman ini berlangsung beberapa saat saja saat konsentrasiku terganggu oleh seorang eksekutif muda yang duduk berjarak dua bangku di sebelah kananku membalik halaman koran yang sedang dibacanya. Hanya karena bukan bagian dari kejadian ini, pria perlente ini seenaknya merusak momen romantisme malam itu. “Sial!” Aku berkata dalam hati. Aku pun jengkel dan memusatkan pandang sesaat ke pria tersebut dan mencoba mengamati sepintas akan motivasi pebisnis itu ada disini. Sudah jelas bahwa ia hanya mengahabiskan waktu menunggu sesorang yang tampak jelas ia merasa tak mau membuang waktu sedikitpun dengan membaca koran bagian bisnis dan keuangan sementara matanya setiap beberapa waku melirik communicator yang ditaruhnya di meja bersebelahan dengan asbak dan secangkir kopi ekspresso untuk melihat apakah ada sms masuk atau lampu gadget itu menyala yang menunjukkan ada incoming call dari seseorang yang sedang ia tunggu.

Kembali lagi ke status sebelumnya dan aku memalingkan muka dari pria intruder itu sambil menilai secara dini bahwa ia hanyalah monkey business yang kejam dan tak segan menghabisi lawan. Paling tidak itu yang tergambar dari raut wajah penuh kekuasaan dan angkuh yang seakan bisa membeli segalanya. Akupun yakin kalo ia hanya seorang yang dingin dan tak berperasaan, bisa saja itu hanya kejengkelanku saja atas apa yang telah ia lakukan. Meski firasatku oleh dukungan pegalaman hidup dalam mengamati berbagai orang di bandara yakin bahwa pria itu tak ubahnya seorang yang sukses atas dasar bisnis rekayasa pada sebuah tender bayangan dengan pejabat pemerintahan yang bersembunyi di ketiaknya. Well, meski dont judge book by its cover yg kupercaya masih saja asumsi negatif berkeliaran di pikirku. “Ah sudahlah!” akupun berusaha menyudai untuk terlibat terlalu emosional dengan pria itu dan kembali ke subjek utama malam itu yakni sepasang kekasih yang berduaan di area open door cafe tersebut layaknya lakon Romeo dan Julliet yang sedang mereka peragakan.

Tanpa disadari bahwa cappuchino yang terhidang menyeringai sebab sebatang rokok yang telah kunyalakan di awal cerita telah habis dan berubah menjadi abu rokok tanpa kuhisap sekalipun. Aku hanya keheranan ini bisa terjadi lalu memahami jika aku terlalu asyik mengamati cerita cinta malam itu. Mungkin saja aku amat kesepian dan sunyi tanpa ada yang menemani selama perjalanan dinas yang sudah kulakoni hampir sepekan di Ibu kota.

Dengan mengesampingkan semua itu, malam berlanjut dan kami, yakni sepasang kekasih dan seorang eksmud yang sedang menunggu dan membaca koran terekam dalam cahaya bulan pada lanscape sebuah taman pada out door side cafe itu. Berlanjut dan aku berusaha untuk konsen pada niatan awal untuk menulis pada sebuah notebook yang sejak awal terbuka dengan pena kesayangan hanya tergelatak sebab belum menemukan topik apapun untuk ditulis.

Setelah menyeruput kopi dalam cangkir dengan segera aku menyambar korek tokai berwarna merah muda pemberian seorang wanita paruh baya yang menemaniku mengobrol pada sebuah halte bis sembari menunggu tepat diseberang busway harmoni dua hari yang lalu masih menyisakan kisah tersendiri. Sedikit teringat akan asal muasal korek yang kemudian kuperbudak untuk menyalakan sebatang rokok yang sudah melekat di ujung mulut. Berusaha keras tuk memulai sebua tulisan namun tetap saja ada yang mengusik dan mengganggu kreasi di kepala utuk menterjemahkan segala rasa yang tetap saja membuat kecewa lembar pada notebook yang masih putih bersih tanpa coretan sedikitpun. Pena pun masih saja sebatas alat tulis yang tak berguna karena sama sekali belum tersentuh kecuali sekedar menjadi penonton akan cangkir kopi dan bungkus rokok yang beberapa kali telah kusentuh dan lebih kuperhatikan selain suasana malam itu.

Perasaan yang tidak begitu jelas dapat kurasakan hanyalah sebuah pokok bahasan semu yang terus menghinggapi aku untuk terus membiarkan aku melamun dan sibuk dengan segala bayangan tidak jelas. Semua hanya terdiam dan tak bergerak, baik pena yang menunggu dan segala kode dalam benak yang menanti untuk dipecahkan dalam sebuah tulisan. Mungkin saja aku masih terheran dan benar – benar menikmati suasana hening oleh karena adanya segala kontradiksi pada realita kehidupan ibu kota yang munkin belum bisa membuat diriku nyaman dengan segala dinamikanya.

Tak beberapa lama keheningan ini terpecah oleh kedatangan seorang wanita cantik dengan gaun merah yang sungguh memikat dan seketika aku tidak bisa menolak untuk memungkiri bahwa libido lelakiku terusik oleh si cantik bergaun merah itu. Kulitnya putih langsat dengan rambut panjang dibiarkan terurai ia melangkah dengan pantat dan dada sintal yang tersimpan pada gaun ketat untuk menghampiri pebisnis yang duduk tak jauh dari kursiku.

Lagi – lagi aku berkata. “sial!” kecemasan dan segala kegundahan dari pikiranku terbungkus pada sebuah rasa penasaran akan kehadiran wanita itu. Bukan karena aku menjadi keranjingan sebab belum pernah melihat wanita secantik dan seseksi itu sebab bagaimanapun lingkup kerja di industri pelayanan membuat ku dengan mudah bersinggungan dengan banyak wanita yang lebih seksi dan cantik. Dengan penuh percaya diri saya menyatakan pernah menemui pramugari yang jauh lebih cantik dan seksi dan lebih berarti dari sekedar wanita asing untuk diamati dan ditelanjangi karena fisiknya, namun aku mengenalnya sebagai seorang teman untuk bertukar kesedihan tatkala penerbangan mengalami penundaan.

Yang membuat pikiran terusik adalah siapa wanita cantik bergaun merah dengan pancaran wajah terlihat kalu usianya tidak lebih dari dua puluh tiga, terlihat sangat belia dan penuh manja. Sedang ia menghampiri seorang pebisnis dengan wajah kaku serta aura penuh kuasa itu. Apakah status hubungan mereka? Yang sekarang berputar – putar dikepala sembari menahan napas oleh harum tubuh wanita cantik bergaun merah itu yang terbawa angin masuk kedalam zona penciuman hidungku. Sekali lagi hanya karena jarak kami yang memang berdekatan dan bukan karena aku mencari – cari cara untuk bisa membaui harum tubuhnya namun hanya saja memang hembusan angin yang berpihak untuk membawanya kehadapanku.

Tampak jelas kalau kehadiran wanita ini tidak menjadi perhatian utama eksmud tersebut malah ia hanya memalingkan muka jenak saat si merah yang cantik ini datang dan segera memberi tatapan kesal oleha karena harus menunggu. Terdengar lirih saat sang wanita memanggil dengan sebutan pebisnis tersebut dengan “om pram”. Perbincangan yang meski lirih masih saja terdengar olehku yang dari sudut pandang mereka aku hanyalah pengunjung yang sedang menikmati suasana dengan notebook terbuka dengan pena yang masih tergeletak disebelah asbak merwarna putih tanpa logo.
“Maaf ya om pram”

to be continued.........

sesorang yang berinisial "R" . . . .


Melekat dalam benak saat bersama berjuang akan sebuah hari esok yang lebih baik dengan berbuat kebaikan untuk sesama. “Engkau yang menabur maka engkau jua yang menuai” tutur mu. Semakin menguatkan arti perjuangan kita dalam menghadapi masa – masa sulit. Realita hidup yang memang telah di atur untuk selalu tidak adil bagi kita sebagai sebuah cerita yang harus kita ubah dengan harapan menjadi sebuah keadilan bagi kita semua. Ya.. and the justice for all my friend... masih terdengar jelas pembawaanmu akan menatap waktu dengan eksistensi serta citra diri.
Termaktub dalam sanubari saat berdua kita memadu kasih akan sebuah harapan kebaikan arti dan bukannya sekedar mimpi. Dengan bekerja sama dan bekerja keras disela – sela kita bercanda akan betapa konyolnya hidup yang diperankan oleh seseorang saat hati tak lagi dilapisi oleh nurani dan hanya dengki.
Satu yang kuingat pasti adalah pendirianmu yang begitu kuat menatap waktu untuk terus disikapi dengan aksi tanpa kebisingan serta saling menjaga orang yang ada di sebelah kita disaat yang bersamaan. Bagaimanapun kita menghadapi sesuatu yang lebih besar dari kita semua yakni kematian sang manusiawi dalam raga mereka yang mengisi kursi – kursi penunjukkan.
Laskar penindas semakin merajalela dengan kader – kader baru yang semakin banyak dan tanpa arah, kader ambisius dan rakus akan kesengsaraan serta menghapus toleran. Sebuah barisan tanpa hati untuk menguatkan opini kita tak ubahnya hewan. Memakan atau dimakan, membunuh sebelum akhirnya juga terbunuh oleh manipulasi roda kehidupan yang tidak diatur dalam sebuah cakupan keimanan, melainkan kebutuhan saja titik. Sejauh masih menguntungkan dan tidak membahayakan maka cahaya itu tetap akan menyala.
Sebuah sinaran kecil dari sebuah lilin yang terhempas angin ke segala penjuru mata angin namun masih tetap menyala. Sebuah kesadaran akan keberlangsungan bersama, mengingat hanya ini yang dapat kita lakukan. Tidaklah mungkin sinaran itu dapat sebesar lampu petromax yang terus dipompa dengan persediaan spirtus yang melimpah. Pemilik kuasa dengan segenap tenaga terus memproduksi penindasan memanfaatkan kematian konsistensi dan harga diri. Menebar ancaman serta teror bahwasanya kita hanyalah kepingan kecil tak berarti untuk berhenti dan menyerah.
Betapa saat itu, bersama seseorang yang berinisial “R” berbagi segala cerita akan ketidakdilan yang ada. Apa yang dia makan adalah apa yang ku makan sebab kami makan dari piring yang sama untuk memudahkan apa yang ada dapat terbagi persis, separuh untuknya dan separuh untukku. Meski terkadang aku menyisipkan satu dua sendok ke bagiannya dan begitu sebaliknya.
Namun kini “sesorang” tersebut telah pergi bersama bayang – bayang antara ada dan tiada. Aku menunduk dan mengelus dada dalam keprihatinan batin yang memang bimbang dan tidaklah segamblang dulu. Seakan nyata. Apakah memang nyata? Jika tidak, mana ada mu?.
Apa kau rela membiarkan sang penguasa membalik halaman ini ?
Jika memang engkau terjatuh atau terbelenggu dalam duka maka teriaklah. Aku PASTI akan menghampiri dan menujulurkan tangan wahai sesorang yang berinisial “R”. Apakah engkau memang telah mati dan terkebiri oleh desahan sang gairah di ujung asmara, seperti yang telah dikabarkan oleh bibir yang bertautan.

Seseorang yang berinisial “R” sesungguhnya adalah Rasa... toleran, perjuangan, sepenanggungan, persaudaraan, persahabatan, kasih sayang serta cinta dalam jabat erat kebersamaan.